About Homesick

Because homesick is feeling of consequence as a wanderer,

 being a fighter outright coward,

you’re not in run away,

so, do not live in fear and hypocrite

—-photo credit:  here

Advertisements

hap! hap! Solo The Spirit of Java

Sebenarnya ini adalah kunjungan ke dua saya ke kota ini. Berbeda dengan kunjungan pertama saya beberapa tahun lalu, kini Solo semakin cantik dengan city walk-nya..persis seperti yang diceritakan Uthi  ;)

Solo, the spirit of Java

Solo, sebuah kota yang sedang menggeliat menjadi kota besar tumbuh berkembang bersama budaya Jawa yang masih kental.Sepanjang perjalanan saya mengitari kota ini, tampak beberapa atribut kebudayaan Jawa menghiasi beberapa tempat, sebut saja aksara Jawa, keraton, museum manusia purba, batik, kuliner, dan keramahan masyarakatnya yang khas ‘Jawa’ banget :)

It means: Welcome :)

Bagi saya, yang kebetulan tumbuh di bawah budaya Jawa, berjalan-jalan mengitari Solo sungguh menyenangkan. Berinteraksi dengan masyarakat sekitar atau membaca nama jalan atau bangunan bertuliskan aksara Jawa bukanlah suatu kesulitan. Kondisi ini tentu berbeda dengan teman saya yang kebetulan lahir di tanah Sunda. Beberapa kali sang kakak meminta saya meminta menjadi penerjemah dan membaca beberapa aksara Jawa yang kami temukan. Bahkan dengan gaya ‘lucu’ dan ‘sok tahu’-nya teman-teman saya berbicara dengan bahasa Jawa yang sengaja di’medok’kan, seperti “Mbak’e..nuwun sewu..” atau “matur nuwunHow it was so funny :D

Hari pertama setibanya di Solo, kami menyempatkan untuk mampir ke pasar Klewer dan Serabi Noto Suman. Konsekuensi jalan-jalan dengan para ibu-ibu berarti harus menyiapkan kaki yang prima. Untungnya kaki saya sudah terlatih berjalan cepat dan jauh selama di kampus,,so it wasn’t a big problem! Setelah capek berkeliling pasar klewer dengan sejuta batiknya, kami beristirahat dan beribadah di Masjid Ageng. Saya suka dengan arsitektur pintu gerbangnya,,that’s why I took one picture,,cool ;)

the entrance of Ageng Mosque

Walaupun selama berada di Solo kami harus seharian mengikuti seminar di UNS, tapi itu tidak menyurutkan semangat kami berpetualang.

Menjelajahi kota Solo, rasanya kurang lengkap tanpa berwisata kuliner. Setelah seharian hampir mati bosan di seminar akhirnya malam itu rombongan kami makan di Galabo. Galabo bisa dikatakan sebuah area depan Pusat Grosir Solo yang sengaja dijadikan tongkrongan untuk menikmati berbagai makanan khas Solo, seperti selat solo, tahu ketupat, nasi liwet, dll. You should try them when you go to Solo,,sure you’ll never disappointed :)

Galabo in the night

Becak, one of traditional transportations

Perjalanan di Solo minggu lalu memberi kesan yang dalam,,sebuah kota yang relatif tenang tanpa hiruk pikuk kemacetan dan kebisingan. Solo masih syarat akan nilai kejujuran dan kedamaian,,itulah sebabnya selalu ada alasan untuk kembali ke Solo ;)