Prasangka

Hello rainy day,

Sore ini, di tengah tagihan deadline tesis yang mencekik leher (lebay banget ye gue :p), saya mengobrol dengan salah seorang teman di lab, sebut saja namanya mawar (*halah* kalo dia baca postingan ini pasti gue dicekek beneran,,hahahaha). Obrolan yang awalnya ngalor-ngidul tiba-tiba menjadi serius tatkala teman saya bercerita soal UAS yang baru saja dia lewati. FYI, teman saya ini kebetulan mahasiswa baru yang sedang mengambil S2 di program studi yang sama dengan saya. Kebetulan untuk tahun ini, mahasiswa baru yang masuk jumlahnya tiga kali lipat dari jaman saya dulu, hampir semuanya fresh graduate, dan memperoleh beasiswa dari pemerintah. Dan tentu saja, dengan kesempatan beasiswa ini teman-teman sekelasnya lebih beragam, rata-rata dari beberapa universitas lain di luar daerah.

Ok, sebelum postingan ini saya lanjutkan, saya ingin menggaris bawahi bahwa postingan ini bukan dimaksudkan untuk membanding-bandingkan antara almamater saya dengan universitas lain. Jadi kalem saja ya ;)

Dari obrolan tadi, saya menangkap ada kesan bahwa dia belum merasakan ‘feel’ sebagai mahasiswa S2 seperti yang dia bayangkan. Ego tinggi antar individu tentu saja, apalagi satu kelas didominasi oleh sekumpulan individu dengan usia yang sama. Saya bisa membayangkan kelas yang harusnya banyak diisi dengan diskusi-diskusi ilmiah dan sharing informasi akan lebih terlihat sebagai kelas yang isinya ‘persaingan mendapatkan IPK tertinggi’. Sekolah untuk menambah ilmu menjadi tempat perebutan gengsi dan nilai saja *miris*. Ga semuanya sih, tapi saya berani bertaruh 50% tebakan saya benar :p

IMG_0259

Masalah yang ke dua, dan menurut saya agak ‘sensitif’ adalah masih adanya perasaan belom bisa lepas dari ‘masa-masa jaya’ jaman S1 di universitas asalnya. Saya punya beberapa kenalan yang bercerita bahwa dulu mereka saat S1 adalah mahasiswa berprestasi atau peraih gelar cum laud di universitas asalnya. Mengingat ‘keberuntungan’ masa lalu menurut saya sah-sah saja sih, sometimes I did too when I felt so bad about my self. Tapi, sayangnya banyak dari mereka yang loose control. Masih banyak yang beranggapan bahwa sekarang ga beda jauh dengan dulu, jadi terkesan meremehkan. Yang lebih menyedihkan, saat hasil ujian dibagikan nilai mereka jauh di bawah standar, lantas beberapa dari mereka bukannya instropeksi malah mencari kambing hitam. Kambing hitam di sini adalah komentar-komentar konyol, salah satunya seperti “ya iyalah si A, si B dapat nilai bagus, kan asalnya juga dari universitas sini“.
Jujur ya, pas saya dapat celetukan seperti ini pengen gue jawab: “enak aja, loe pikir nilai ujian turun dari langit!

Oh iya, saya menulis ini bukan berarti saya adalah mahasiswa yang luar biasa pintar atau dianugerahi gelar cum laud pas jaman S1. Saat S1 saya juga termasuk mahasiswa dengan prestasi standar, mahasiswa yang juga harus merasakan nikmatnya begadang saat akan ujian. Tapi, mungkin yang mereka lupa adalah mental kami yang sudah diasah. Jaman kami dulu sudah terbiasa susahnya mendapatkan nilai A, bagaimana nilai C tidak bisa diulang, jarang bahkan tidak pernah ada sistem nilai border atas B bisa naik jadi A, dan tidak ada sistem nilai AB. Bahkan ada beberapa semester kami lewati dengan kuliah dari hari Senin sampai Sabtu. Jadi pliss jangan terus berprasangka buruk dulu! :D

Lagi-lagi mental-lah yang berbicara. Banyak juga kok teman-teman saya yang dari universitas lain tetap bersinar di universitas tempat belajarnya sekarang. Intinya, lha wong kalo pada dasarnya pintar mau di manapun berada juga akan tetap bersinar. Jadi, untuk teman-teman yang masih merasa tidak adil kenapa mahasiswa dari almamater yang sama terkesan lebih ‘menonjol’ jangan berprasangka buruk dulu. Mereka juga melewati hari-hari dengan begadang dan tumpukan paper yang harus dikerjakan. Mungkin yang membedakan adalah latar belakang kami yang sudah dibiasakan untuk lebih bekerja keras daripada yang lain.

Karena saya juga orang yang percaya bahwa hal-hal baik datang tidak hanya karena keberuntungan, ada suatu proses kerja keras di masa lalu :)

Ada quotes menarik dari salah satu episode di serial TV favorit saya (Criminal Minds, season 8 episode 12)

Because genius isn’t just one good idea or one successful experiment.
Genius is work.
Thousands of hours of work. — Maeve to Diane

Happy Sunday everyone ;D