Catatan dari obrolan singkat

 Minggu, 24 Agustus 2014

Masih sedikit jet lag setelah penerbangan selama kurang lebih tujuh jam dari Brisbane-Bali-Jakarta hari Jum’at, akhirnya saya bersama grup Pak A (dosen pembimbing saya jaman S1) berangkat ke bandara (lagi) untuk menjemput sensei dan mahasiswanya. Berhubung kami berangkatnya ‘kepagian’ dua jam-an, akhirnya saya mengobrol banyak dengan Pak A.

Obrolan tersebut ternyata banyak berpengaruh terhadap saya. Beberapa hal yang saya ‘highlight‘ dari nasehat beliau adalah untuk tidak terlalu fokus hanya kepada karier, tetapi juga harus seimbang antara karier dan kehidupan pribadi saya. ”Mbak, percuma kamu dapat berkarier bagus tapi kalau keluargamu nanti ‘berantakan’ itu ga ada artinya.” Huaaaa ucapan beliau yang santai dan kalem tersebut rasanya ‘jleb’ banget!! hehehe… Pak A berpesan kepada saya, jika nanti saya ingin menjadi dosen, jadilah dosen yang baik, jangan pernah lupa untuk membantu dan mempermudah mahasiswa dalam arti positif.

 *  *  *

April 2013

Berjalan sedikit lebih lama ke belakang..

Obrolan ini saya dapatkan dari seorang wanita yang saya temui di kereta dalam perjalanan menuju Jogjakarta. Sebut saja namanya mbak B, karena memang waktu itu saya tidak menanyakan namanya.

Mungkin wajah saya ‘curhatable‘, karena dari hanya saling menyapa ‘halo’, entah kenapa tiba-tiba mbak B cerita banyak mengenai kehidupan pribadinya.

Mbak B adalah seorang bankir di sebuah bank ternama di Jakarta. Dari ceritanya, mbak B pernah menikah dan mempunyai seorang anak dari hasil pernikahan pertamanya. Awalnya saya menganggap cerita mbaknya standar, akan tetapi yang langsung membuat saya tersedak ternyata mbak B adalah istri ke dua dari Pak W dengan status awal adalah ‘affair‘.

Selama ini saya selalu benci kepada namanya ‘orang ke tiga’ (naudzubillah, semoga saya jangan sampai menjadi orang ke tiga dalam sebuah hubungan). Tapi entah kenapa saat mendengarkan curhatan mbak B saya jadi penasaran sebenarnya apa sih motif-motif dari orang ketiga dibalik terjadinya sebuah ‘affair‘. Intinya, affair tersebut bermula dari rasa nyaman antara mbak B dan pak W. Walaupun mbak B mengutarakan beberapa alasan pembenaran mengenai posisinya sebagai orang ke tiga , saya sebagai orang netral dalam cerita tersebut tetap tidak setuju atas affair antara Pak W dan mbak B. Menurut saya, affair itu jahat, karena ada sebuah pengkhiatan dalam sebuah komitmen dan pastinya banyak pihak yang tersakiti.

Tapi lagi-lagi, sebagai pendengar, saya hanya mendengarkan cerita mbak B tanpa komentar apapun. That’s her life and her choice, saya hanya mencoba untuk mengambil pelajaran dari cerita hidupnya. Dalam hati saya berdo’a, semoga nantinya ketika saya berkeluarga, saya dan pasangan hidup saya dapat berkomitmen untuk setia. Amin :)

P.S: Oiya, saya juga menemukan pemikiran serupa di tulisan ini, selamat berkunjung :)

— —— —