Sekilas cerita dibalik beasiswa saya

Selamat sore dari Brisbane :)

Sudah hampir tiga minggu saya tinggal di Brisbane, dan well, setelah beberapa teman meminta saya untuk sharing, berikut saya akan berbagi mengenai beberapa info penting terkait beasiswa yang saya peroleh.

Oiya, sebagai catatan, saya berbagi info ini supaya teman-teman yang berniat melanjutkan kuliah ke luar negeri mendapat gambaran dan sama sekali tidak ada niatan untuk pamer apalagi membandingkan dengan beasiswa yang lain :)

Jadi, silahkan disimak ;)

  • Apa nama beasiswa yang saya peroleh?
    Alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk memperoleh beasiswa John Allwright Fellowship dari Pemerintah Australia.
  • Apa itu beasiswa John Allwright Fellowship (JAF)?
    Beasiswa J.A.F merupakan salah satu beasiswa yang diberikan oleh pemerintah Australia melalui ACIAR. Informasi mengenai beasiswa ini bisa klik disini.
  • Apa bedanya dengan beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS)?
    Beasiswa J.A.F sebenarnya di bawah payung besar AAS dengan regulasi yang hampir sama. Bedanya, kalau di Indonesia, beasiswa AAS reguler dikelola di bawah Australia Awards Indonesia (AAI), sedangkan beasiswa JAF ada di bawah manajemen ACIAR Jakarta.
  • Apa ada kriteria khusus untuk dapat mendaftar beasiswa ini?
    Ada. Pelamar beasiswa ini hanya berlaku bagi institusi yang punya kerja sama dengan proyek penelitian ACIAR dan pelamar pernah bekerja untuk salah satu proyek tersebut. Lebih baik lagi, pada saat melamar ada penelitian yang sedang berjalan.
    Apabila institusi pelamar tidak punya kerja sama dengan ACIAR/ pelamar adalah fresh graduate, bisa mendaftar melalui jalur AAS.
  • Apakah ketika melamar ada jaminan langsung diterima?
    Tidak. Tentu saja kelengkapan syarat dan beberapa pertimbangan nilai dari pelamar menjadi poin penting lolos dan tidaknya beasiswa yang kita lamar.
  • Apa hal-hal yang perlu disiapkan?
    Waktu pendaftaran. Silahkan dicatat tenggat waktu untuk apply dan semua persyaratannya, jangan sampai terlalu mendadak, karena ada beberapa dokumen yang harus kita siapkan.
    Ada baiknya jauh-jauh hari kita sudah menyiapkan semua dokumen yang diperlukan, termasuk menghubungi calon supervisor. Pada saat mendaftar, lebih baiknya kita sudah mempunyai calon supervisor di universitas yang akan kita tuju.
    Secara garis besar, untuk dokumen yang diunggah adalah scan ijasah, transkrip nilai, KTP, paspor, akta lahir, surat rekomendasi, dan sertifikat-sertifikat.
    Proposal penelitian biasanya dibuat mengikuti format masing-masing beasiswa dengan topik yang sudah disetujui antara pelamar dan calon supervisor.
    CV yang saya buat hanya mencantumkan kegiatan/ seminar/ course yang memang dapat meyakinkan pemberi beasiswa dan mendukung bidang yang saya ambil. Untuk kegiatan yang sifatnya menjadi panitia kegiatan kecil (skala kampus) dan tidak berkaitan tidak saya cantumkan.
    Mengenai motivation letter, saya tidak mengisi dengan hal-hal bombastis dan gombal, tetapi memang hal-hal realistis yang kiranya ingin saya lakukan setelah selesai sekolah.
    Oiya, untuk motivation letter, teman-teman bisa membaca referensi bagus yang ditulis teman saya, Dea, di sini.
    Satu lagi, ketika melamar beasiswa, saya menambahkan 3 publikasi saya untuk memberi nilai tambah (1 jurnal terindex scopus dan 2 jurnal terakreditasi Dikti).
  • Bagaimana dengan persyaratan bahasa Inggris?
    Untuk beasiswa ke Australia, yang dibutuhkan adalah sertifikat IELTS dengan skor minimal 6.5 dan nilai minimal yang diperbolehkan untuk masing-masing poin adalah 6 (misal untuk nilai IELTS overall 6.5, nilai speaking 7, writing 6, listening 7, speaking 6, tidak boleh ada nilai <6 untuk masing-masing poin).

Lalu, biasanya ada pertanyaan tambahan:

  • Kenapa pilih Australia?
    Well, sebenarnya ketika teman-teman menanyakan ini, pasti jawabannya akan sangat subyektif dan dipengaruhi beberapa pertimbangan. Kalau dari pengalaman saya, ketika memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke Australia, beberapa hal ini yang menjadi pertimbangan saya (nomor tidak berdasarkan prioritas pertimbangan):
    1. Dari dulu saya memang berniat kalau dapat kesempatan sekolah di luar negeri, saya ingin sekolah dengan sistem pendidikan barat. Selain karena kemampuan bahasa asing yang saya kuasai hanya bahasa Inggris, saya merasa lebih cocok dengan gaya belajar dengan sistem pendidikan barat.
    2. Jurusan dan Universitas. Sebelum memutuskan universitas mana yang akan saya pilih, saya mencari informasi mana universitas yang mempunyai kualitas bagus di bidang yang saya tekuni. Kebetulan universitas yang saya pilih, mempunyai kredibilitas yang bagus di bidang yang akan saya tekuni dan termasuk salah satu universitas terbaik di Australia (ceileeeh sekalian promosi :D). Satu lagi hal yang paling penting, universitas yang dipilih terhubung dengan beasiswa yang akan diambil, karena salah satu supervisor saya adalah dosen di sini.

    Sebagai catatan tambahan,
    Bagi saya pribadi, dimanapun kita belajar semua tempat sama baiknya. Hal yang lebih penting adalah kontribusi yang nantinya bisa saya lakukan untuk institusi dan negeri tercinta dibandingkan menggembar-gemborkan nama besar almamater dimana kita belajar.

    3. Sebelum memutuskan untuk mengambil beasiswa ini, saya berdiskusi dengan pembimbing dan keluarga, termasuk dulu dengan calon suami :D. Ini penting, karena saya pada saat itu akan segera menikah, maka nantinya ijin dan ridho dari suami itu sangat penting demi kelangsungan kerukunan rumah tangga dan kelancaran sekolah (terima kasih suamiku :) )

  • Poin terakhir… salah satu hal penting yang tidak boleh terlewatkan adalah DO’A. Saya selalu yakin bahwa keberhasilan yang saya peroleh salah satunya adalah faktor dari do’a-do’a baik dari orang lain, baik yang saya kenal langsung maupun tidak.
    Jangan lupa untuk selalu BERSYUKUR, supaya Allah makin sayang sama kita :)

Semoga informasi singkat ini bermanfaat dan selamat berburu beasiswa :)
Apabila ada yang mau menambahkan informasi bisa ditulis di kolom komentar, terima kasih :)

Advertisements